Menimba Ilmu dari Sahabat Lama

Terdapat sebuah pepatah Rusia yang berbunyi seperti ini, “stary drug luchshe novyh dvuh”. Satu sahabat lama lebih baik ketimbang dua sahabat baru. Pepatah ini menggambarkan betul hubungan antara Indonesia dan Rusia. Sudah lebih dari 100 tahun hubungan Indonesia-Rusia terjalin. Dimulai sejak Indonesia masih berbentuk Hindia Belanda hingga periode kepemimpinan Presiden Jokowi.

Kemesraan Indonesia-Rusia masa lampau pernah digambarkan dengan hangat melalui syair gubahan Tan Teng Kie dalam “Sair dari hal Datengnya Poetra Makota Keradjaan Roes di Betawi dan Peginja”. Ia menceritakan kunjungan Kaisar Soviet, Nikolai Alexandrovich, untuk berburu macan di Garut pada tahun 1980. Eratnya hubungan Soviet dengan Hindia Belanda juga terlihat dari banyaknya peneliti Soviet datang ke Nusantara. Studi mengenai Hindia Belanda kemudian banyak dilakukan, terutama untuk studi kemasyarakatan dan sumber daya alam.

Hubungan di bidang riset dan pendidikan terjalin lebih mesra pada masa Presiden Soekarno. Anak muda Rusia antusias datang ke Indonesia untuk mempelajari sains dan humaniora. Sebaliknya, Moskow menjadi tujuan populer mahasiswa Indonesia pada akhir periode 1950-an. Saat itu, Rusia memang benar-benar unggul dalam sains terapan; misalnya saja teknik perminyakan, nuklir, hingga antariksa.

Keunggulan Rusia dalam sains dan teknologi pun masih dirasakan hingga saat ini. Di bidang industri perminyakan misalnya, Rusia telah menemukan teknologi baru yang terbukti mampu mendorong produktivitas minyak, yaitu teknologi nano. Teknologi ini telah diterapkan di sejumlah negara, terutama Timur Tengah. Bahkan, teknologi modern ini juga mampu mengaktifkan kembali sumur yang sudah tidak lagi berproduksi.

Di bidang industri nuklir, Rusia menjadi salah satu negara dengan teknologi paling mumpuni. Beberapa negara, seperti AS dan Tiongkok, tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung. Namun, Rusia sepertinya akan memenangi kompetisi ini. Kapal milik Rusia mampu menghasilkan daya sebesar 70 megawatt hingga 70 kilowatt dan direncanakan beroperasi pada Desember 2019. Rusia selanjutnya akan menambatkan kapal ini di wilayah paling utara Rusia. Serupa dengan Indonesia, Rusia berupaya untuk mengembangkan daerah tapal batas yang relatif tertinggal.

Saya kagum dengan perkembangan ilmu sains yang dimiliki oleh Rusia. Di antara negara G20, Rusia mencatatkan peringkat tertinggi untuk rasio pendidikan tersier bagi generasi muda. Tercatat, sebanyak 58% dari penduduk Rusia usia 25-34 tahun telah menempuh pendidikan tinggi. Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan persentase rerata negara G20 yang sebesar 35%, atau Indonesia yang hanya sebesar 16% (OECD, 2018). Tak pelak, Rusia menempatkan pendidikan tinggi menjadi satu hal vital dalam pembangunan. Hal ini yang menjadikan saya menyukai Rusia.

Saya kemudian teringat satu pepatah Rusia lainnya, “jangan miliki 100 Rubel, tapi miliki 100 orang teman.” Ya, Indonesia dan Rusia sama-sama menempatkan persahabatan lebih bernilai dibandingkan uang. Dari sahabat lama, kita dapat menimba ilmu untuk belajar hal baru. Rasanya betul, satu sahabat lama lebih baik ketimbang dua sahabat baru.

*ditulis dalam rangka memperingati 69 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.