Diserang Burung

“Hey man, I will be late. I was attacked by magpie. I drop my cellphone and have to find my s-pen.”

Cuaca di Canberra sudah mulai menyenangkan memasuki musim semi. Matahari tak lagi malu-malu sembunyi, bunga bermekaran di beberapa area, dan saya, kerap bersepeda dengan menggunakan jaket tipis saja.

Di suatu sore hari yang cerah, saya mengajak teman saya untuk mendatangi “Floriade”, festival musim semi di Canberra, di mana satu taman di pinggir danau diubah menjadi ladang bunga yang cukup cantik. Kami sepakat untuk kesana pukul 4 sore.

Seperti biasa, saya mengambil sepeda dan mulai melaju kencang. Rute yang saya lewati dari rumah ke Floriade merupakan jalan turunan. Ini rute yang biasa saya lewati. Tapi, ada satu yang tidak biasa saya temui. Burung magpie.

Musim semi merupakan periode kawin burung ini. Sang jantan biasanya akan mempertahankan teritorinya. Kadang, mereka suka menyerang manusia yang sedang berjalan atau bersepeda. Saya mungkin sudah 3 kali diserang oleh magpie. Namun, saya lumayan bisa untuk menghindarinya. Tapi tidak untuk yang satu ini.

Ketika tengah turun dengan cepat, si magpie sontak menyerang saya. Alhasil, saya sedikit lepas kendali. Ponsel yang tersambung dengan earphone kemudian jatuh dari ransel saya. Ponsel saya jatuh membentur aspal. Hal yang menyebalkan, s-pen yang menyatu dengan ponsel kemudian mental, hilang entah kemana.

Saya mencari sekitar 15 menit, kembali mundur ke belakang, diserang oleh magpie lagi (asyem tenan), dan belum ketemu juga. Saya kemudian pasrah dan mengirim pesan singkat ke teman saya sebagaimana kalimat di awal cerita. Ya, saya pasti datang terlambat.

Sesudah ikhlas tidak akan ketemu, ya sudah, saya kembali melaju sepeda ke arah depan. Tak disangkat, saya menemukan pulpen saya justru terpental ke arah depan, sekitar 10 meter dari posisi saya diserang. Padahal, sepeda masih melaju ketika ponsel saya jatuh dan saya baru berhenti 5 detik setelahnya.

Sore itu, saya belajar bahwa kadang kita mengalami kejutan kecil di dalam hidup.

***

Saya cuma berharap kita semua selalu bersiap menghadapi kejutan yang tidak menyenangkan. Saat ini, saya berharap bahwa tidak akan terjadi krisis ekonomi dalam waktu dekat. Sebuah studi mengatakan bahwa ketika krisis politik dibarengi dengan krisis ekonomi, biasanya akan terjadi pergolakan di suatu negara. Namun, krisis politik yang tidak diimbangi dengan krisis ekonomi, kondisinya tidak tereskalasi menjadi parah. Kita masih ingat krisis politik yang dibarengi krisis ekonomi pada tahun 1998 kemudian melengserkan Presiden Soeharto. Kita berharap itu tidak terjadi kembali, ketika kondisi ekonomi dunia kian mendung.

Saya cuma berharap kita punya tabungan untuk kondisi darurat. Untuk itu, kita perlu mengelola aset yang kita miliki. Jaga-jaga saja, jika tiba-tiba langit kelabu kemudian berubah menjadi badai. Tidak ada yang tahu, bagaimana semua bisa terjadi.

Kejutan selalu dating. Sama halnya, sebulan yang lalu, kita tidak pernah memperkirakan bahwa mahasiwa kemudian banyak turun ke jalan untuk menghadirkan sebuah perubahan.

***

Tidak ada yang tahu bagaimana kejutan-kejutan yang akan menyerang kita semua. Tidak ada yang betul-betul aman di bawah langit ini, di Jakarta, di Canberra, atau di New York sana. Saya kira saya aman di kota ini karena tingkat kriminalitasnya yang rendah. Saya salah. Ternyata, saya lebih banyak diserang dibandingkan di Jakarta. Bukan oleh manusia, tapi oleh burung.

Memang kadang burung agresifnya suka keterlaluan.

Live the life!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.