Tembok Berlin

Tepat tiga puluh tahun yang lalu, Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur itu diruntuhkan.

Saya jadi ingat, setahun ke belakang, ketika saya mengunjungi negara itu, saya sempat berdiskusi dengan seorang kawan. Ia bercerita bahwa dari segi ekonomi, keadaan masyarakat kawasan barat dan timur secara umum berbeda. Pun diikuti dengan berbedanya pilihan politik mereka.

Saya sedikit banyak belajar tentang Jerman, yang kemudian saya hadiahi ia dengan informasi politik di Indonesia. Kala itu, Prabowo baru saja meminang Sandi sebagai cawapres untuk berlaga di pesta demokrasi.

Saya bilang bahwa Indonesia pun semakin terpolarisasi. Juga dengan dunia yang semakin terserang populisme. Saat itu, Trump terpilih sebagai Presiden AS. Polemik Brexit juga tengah ramai-ramainya. Di Prancis, meski Macron menang dalam pemilu, rivalnya Le Pen yang punya pandangan euroskeptisme dan anti-globalisasi jadi saingan yang patut diperhitungkan.

Sembari berjalan mengelilingi Kota Hamburg, saya berpendapat bahwa fenomena itu terjadi karena ekonomi global tidak sedang baik-baik saja. Masyarakat dunia tidak puas. Perlu ada yang disalahkan, dan itu adalah rezim pemerintahan (partai) petahana.

Ketika dilanda kesulitan, biasanya pemimpin yang dianggap tegas akan punya keuntungan suara. Padahal, kebijakannya seringkali kontraproduktif bagi ekonomi jangka panjang. Studi justru membuktikan bahwa pemimpin yang dianggap keras dan tegas lebih banyak membawa kemudaratan.

Namun, tak bisa dielakkan, pemimpin dengan rezim berbeda memang memberikan harapan. Dan ketika di titik bawah, harapan adalah sebuah komoditas yang menjanjikan.

Di 2019 ini, setahun setelah kawan saya itu memperkenalkan produk minuman berkarbonasi lokal berlogo duo om-om (manis banget saya lupa merknya), saya rasa kondisi dunia tak semanis itu. Justru lebih berbahaya, layaknya soda yang saya minum.

Siapa yang sangka, Boris Johnson tetiba jadi PM Inggris dan Korea Utara punya hubungan spesial dengan AS. Atau misalnya lagi, Tiongkok makin gencar menekan dunia dengan kekuatan ekonomi dan politiknya, seperti yang terjadi di Hongkong dan Laut Cina Selatan. Belum kita bicara dinamika geopolitik di Asia Selatan dan Teluk Arab yang tidak ada habisnya.

Ketika suasana politik tengah kelabu, dunia malah kekurangan sosok pemimpin. Dulu, masih ada Obama, Merkel, atau May yang bisa beri rasa aman. Kini, rasanya agak susah kalau semua beban diberikan pada Merkel seorang.

Kita perlu belajar dari Jerman. Tiga puluh tahun yang lalu Jerman sudah berhasil secara fisik menghancurkan temboknya. Namun, meski sudah tak lagi dibatasi, friksi kedua area ini sejatinya masih terasa.

Jangan sampai di sini, kita justru membangun tembok imaji untuk membagi teritori. Karena kalau sudah sampai terjadi, sulit untuk diruntuhkan lagi.

Tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Sebagaimana harapan yang menjadi bara kehidupan, mari berharap kondisi politik dunia baik-baik saja. Pun juga dengan resesi ekonomi semoga tidak terjadi.

Mari berdoa, dan terus berharap Indonesia semakin kuat perannya di dunia internasional. Mari terus berharap. Akhir kata, selamat bekerja Pakyai Ma’ruf Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.