Menggunakan Sepatu Orang

Beberapa pekan terakhir, saya merasakan bahwa media sosial terlalu riuh bersuara. Misalnya, bahasan tentang previlese menjadi ramai setelah penunjukkan staf khusus milenial. Beberapa warganet menyerang staf presiden usia muda (juga menteri muda). Bisa saja benar, tapi kita tidak pernah tahu perjuangan mereka. Kita hanya melihat ujung dari gunung es, bukan bongkahan besar di bawahnya. Kita bahkan menyerang beberapa pernyataan tanpa tahu esensinya. Setiap orang berpendapat, tapi tidak menelaah lebih dalam.

Seringnya kita lupa, bukan previlesenya yang jadi krusial, tetapi bagaimana kita menggunakan previlese tersebut untuk membantu banyak orang. Itu yang penting. Namun, kita asyik bicara sendiri, tidak berdiskusi, serta hanya memakai sepatu sendiri.

Hal yang sama mungkin terjadi di lingkaran kehidupan kita. Seberapa sering kita menilai seseorang itu pemalas karena sesekali mengantuk di ruang kerja. Padahal, bisa jadi orang tersebut menjaga ibunya yang tengah sakit sampai larut malam

Kita mungkin pernah menistakan pelacur di pinggir rel kereta, merendahkan mereka yang akan masuk neraka. Padahal, siapa kita? Bisa jadi ia menangis dengan hebatnya, memohon ampun kepada Tuhan tiap malamnya akan perbuatan buruknya. Kita tidak tahu bahwa membutuhkan uang untuk membiayai adiknya kuliah di perguruan tinggi untuk memutus rantai kemiskinan.

Beberapa bulan ini, saya bertemu banyak orang. Saya berinteraksi dengan ragam individu yang punya kultur berbeda. Ini semakin membuka wawasan saya.

Belajar dari sana, saya berusaha untuk tidak terlalu cepat menilai seseorang. Saya sadar, saya tidak akan benar-benar tahu kehidupan seseorang, sampai saya mengetahui semua kisah dibaliknya.

Kita bukan actor di kehidupan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kisah orang lain bermula, berjalan, dan akan berakhir.

Kita punya hak untuk bicara bebas (meski harus hati-hati karena ada UU ITE yang kunaon). Namun, buat apa berbicara untuk suatu hal yang seringkali banyak negatifnya, dan kecil pengaruhnya dalam kehidupan pribadi kita. Sayang rasanya energi dibuang-buang.

Sekarang ini, sepertinya saya harus sedikit bicara, banyak mendengarkan, dan mulai menggunakan sepatu orang.

Live the life!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.